HARI JADI DESA SIRNOBOYO: JEJAK SEJARAH, SPIRITUALITAS, DAN KEBUDAYAAN
|
Judul |
: |
HARI JADI
DESA SIRNOBOYO: JEJAK SEJARAH, SPIRITUALITAS, DAN KEBUDAYAAN |
|
ISBN |
: |
|
|
Kepengarangan |
: |
Dr. Agoes
Hendriyanto, S.P., M.Pd Dr. Asep
Yudha Wirajaya, SS., MA. |
|
Penyunting |
: |
Muhammad
Rafid Musyaffa’, S.T. Muhamad
Rafid Romadhoni, S.T. Indah Nawangsari, S.H |
|
Penelusuran
Situs |
: |
Eko Haryono Khamim Turmudzi M Choiri |
|
halaman |
: |
108 |
|
Ukuran
kertas |
: |
B5 |
|
Harga |
: |
45.000 |
|
Penerbit |
: |
CV. Nata
Karya |
|
Sinopsis |
: |
Buku
ini merupakan luaran hasil kajian mendalam yang lahir dari Program
Indonesiana bidang Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya Tahun
2025 dengan judul “Inventarisasi Dan
Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Di Pacitan Upaya Pelestarian Warisan Budaya
Lokal”. Berangkat dari penemuan prasasti beraksara Arab Pegon pada
dinding Masjid Miftahul Jannah Desa Sirnoboyo, penulis menelusuri jejak
historis dan spiritual masyarakat setempat yang selama berabad-abad menjaga
tradisi, keyakinan, dan kebudayaannya. Temuan tersebut menjadi pintu masuk
untuk memahami warisan budaya takbenda yang masih hidup dalam keseharian
warga hingga kini. Melalui
pendekatan filologis, historis, dan tradisi lisan, buku ini menguraikan
perjalanan panjang Desa Sirnoboyo sebagai salah satu pusat peradaban awal di
Pacitan. Kisah tentang Kyai Sirno, Rajah Qithmir, serta praktik ziarah dan
doa berbahasa Pegon, disajikan bukan semata sebagai cerita masa lalu,
melainkan sebagai wujud kontinuitas spiritual masyarakat Jawa Islam di
pesisir selatan Jawa Timur. Nilai-nilai tauhid, gotong royong, dan rasa
hormat terhadap leluhur menjadi roh utama dalam setiap tradisi yang dihidupi
hingga hari ini. Salah
satu pokok bahasan penting dalam buku ini adalah penetapan Senin Kliwon, 24
Agustus 1745 Masehi, sebagai Hari Jadi Desa Sirnoboyo. Penetapan tersebut
bukan hanya peringatan sejarah, tetapi representasi dari momentum hijrah
leluhur dari Sirin ke Sirnoboyo, pembangunan Masjid Ageng Asin, dan lahirnya
tatanan sosial-religius yang menjadi dasar terbentuknya identitas kultural
masyarakat desa. Melalui bukti material dan spiritual yang masih lestari,
buku ini menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai bentuk
penghormatan terhadap perjalanan sejarah lokal. Secara
keseluruhan, buku ini mengajak pembaca untuk memandang Sirnoboyo bukan hanya
sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang hidup budaya yang
memadukan sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal. Dengan gaya penulisan
yang reflektif dan berbasis riset lapangan, karya ini diharapkan dapat
menjadi referensi akademik sekaligus inspirasi bagi upaya pelestarian
identitas budaya desa-desa di Indonesia, serta menjadi pijakan bagi generasi
muda dalam memahami makna warisan leluhur di tengah arus modernisasi yang
terus bergerak. |

Komentar
Posting Komentar