Buku Spirit Ramadan: Meneguhkan Tradisi Keilmuan, Merawat Peradaban
Judul :
Buku Spirit Ramadan: Meneguhkan Tradisi
Keilmuan, Merawat Peradaban
ISBN :
Kepengarangan : Dr. Agus Setyawan, S.Th.I, M.S.I.
Dr. Muhammad Misbahuddin,
M.Hum
Dr. Idam Mustofa, M.Pd.
Dr. M. Muchlis Huda,
M.Pd.I.
Drs. H. Maftuh Basuni,
M.H.
Imron Ahmadi, S.Ag.
Imroatul Munfaridah,
M.S.I.
Diyan Putri Ayu, M.Sy.
Anis Khusnul Inayah,
M.Pd.
Suwadi, M.Pd.I.
Eko Priaji,S.I.P., M.A.P.
Wasis Nur M., M.E.
M. Arwan I’tikaf, M.Pd.
Editor : Azza Fahreza Zayinnatul Ula, S.Sos.
Dr. Agus Setyawan, S.Th.I, M.S.I.
Halaman : 182
Ukuran Kertas : A5
Harga : 45.000
Penerbit : CV. Nata Karya
SINOPSIS : Buku Spirit Ramadan: Meneguhkan
Tradisi Keilmuan, Merawat Peradaban merupakan kumpulan artikel reflektif yang
ditulis selama bulan Ramadan 1447 Hijriah /2026 Masehi dan dipublikasikan
setiap hari melalui media ASWAJANEWS, PC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)
Ponorogo. Buku ini disusun oleh tiga belas penulis dari latar belakang keilmuan
yang beragam, di bawah penyuntingan Azza Fahreza Zayinnatul Ula.
Isi buku
terbagi dalam tiga bab utama. Bab I, "Fondasi Spiritual Ramadan",
membahas hakikat puasa, niat dan keikhlasan, keutamaan Al-Qur'an, serta dimensi
tasawuf dalam pengendalian diri (mujahadatun nafs). Bab II, "Akhlak dan
Transformasi Sosial", mengangkat tema etika bermedia digital, zakat dan
solidaritas sosial, ukhuwah Islamiyah, ekonomi umat, hingga ketahanan keluarga
sakinah. Bab III, "Pendalaman Ilmu dan Amal", menyoroti i'tikaf,
kepemimpinan spiritual, keadilan sosial melalui zakat fitrah, malam Lailatul
Qadar, hingga refleksi Idulfitri dan tradisi halal bihalal sebagai rekonsiliasi
sosial.
Dengan
pendekatan yang memadukan rujukan Al-Qur'an, hadis, pemikiran ulama klasik,
serta analisis atas realitas sosial kontemporer, buku ini menempatkan Ramadan
tidak hanya sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum
pembentukan karakter, penguatan etika sosial, dan kepedulian terhadap sesama.
Buku ini relevan sebagai bahan bacaan dan referensi bagi akademisi, mahasiswa,
guru, mubalig, aktivis organisasi keagamaan, maupun masyarakat umum yang ingin
memahami Ramadan secara lebih komprehensif dan kontekstual.

Komentar
Posting Komentar